Makassar, Sabtu 07 Februari 2026 KKM VII Kec. Tamalate kembali menyelenggarakan Rencana Tindak Lanjut (RTL) Workshop Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Pembelajaran Mendalam sebagai upaya peningkatan mutu pembelajaran dan penguatan kompetensi guru di era pendidikan berbasis karakter dan teknologi. Kegiatan RTL ini merupakan kelanjutan dari Workshop KBC dan PM yang dilaksanakan di Hotel Royal Bay Makassar, bertujuan untuk melihat kemampuan guru dalam menerapkan KBC dan PM baik pada modul ajar maupun dalam proses pembelajaran.
Workshop sebelumnya tidak hanya memberikan wawasan teoretis, tetapi juga menghasilkan rencana tindak lanjut seperti yang dilakukan pada hari ini berupa pengembangan modul ajar kurikulum berbasis cinta dan pembelajaran mendalam.
Kegiatan ini diadakan di MI Al Abrar Kota Makassar dengan menghadirkan narasumber Junaedi (Guru MIS Madani Alauddin Paopao-Gowa) yang juga merupakan fasilitator dan Penulis dan peserta guru dari madrasah wilayah KKG MI VII dan V; MI Al Abrar (16), MI Al Hidyah (4), MI Jamiatul Khair (6), MI Mifthaul Khair (8), MI Nurul Hasanah (2), MI Nurul Hikmah (6), MI Khaerunnas (7), MI Yaspi Sambung Jawa (4), MI DDI Mariso (2), MI Ainussyamsi (4) dan MI Faturrahman (4).
RTL ini dibuka secara resmi oleh Andi Harmiah (Kepala MI Al Abrar Kota Makassar/ Ketua KKM VII). Sambutannya, beliau menekankan pentingnya guru memiliki kemampuan empatik dalam proses pembelajaran dan berpikir mendalam. “Melalui pendekatan kurikulum berbasis cinta dan pembelajaran mendalam, guru tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menumbuhkan kesadaran, kasih, dan kebijaksanaan dalam diri murid,” ungkapnya.
Junaedi Sebagai narasumber utama, menjelaskan secara komprehensif gagasan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), yaitu pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai kasih sayang, empati, dan ketulusan dalam setiap aspek pembelajaran. Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya mengasah kecerdasan intelektual, tetapi juga menumbuhkan kecerdasan spiritual dan emosional peserta didik. “Kurikulum berbasis cinta adalah ruh dari pendidikan sejati, sedangkan konsep pembelajaran mendalam sebagai model pembelajaran yang menekankan pemahaman konseptual dan reflektif. Ia menambahkan bahwa paradigma ini sangat relevan dengan tuntutan Kurikulum Merdeka, yang berfokus pada pengembangan kompetensi dan karakter siswa melalui pembelajaran bermakna dan kontekstual.” ujarnya dengan penuh inspirasi.
Para peserta yang terdiri dari guru-guru MI tampak antusias mengikuti setiap sesi RTL ini. Mereka terlibat aktif dalam diskusi, refleksi kelompok dan adu pendapat terkait tantangan, kelebihan, hal-hal baru dan kekurangan pembelajaran mendalam. Simulasi implementasi pembelajaran mendalam di kelas. Semakin menarik karena salasatu guru dari MI Ainussyamsi juga berbagi praktik baik dalam bentuk vidio pembelajaran, yang kemudian mendapat apresiasi dan masukan langsung dari peserta dan narasumber.
Kedepannya madrasah berupaya akan menindaklanjuti hasil RTL workshop ini melalui pendampingan internal dan kolaborasi lintas bidang untuk memastikan implementasi yang berkelanjutan.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan buku karangan narasumber kepada 3 peserta aktif dan foto bersama seluruh peserta. Kepala madrasah menyampaikan apresiasi atas kolaborasi dan semangat belajar para guru. “Semoga semangat cinta dalam belajar dan mengajar menjadi budaya baru di madarasah masing-masing, menuju madrasah unggul yang berkarakter dan berperadaban,” pungkasnya. (Pewarta/Foto: Humas/Irfan.ID_Dokumentasi Kegiatan)